bujangbangket
Utas oleh
 @bujangbangket

Banyak Kantor yang emang ada penunggunya. Di kantor saya juga ada. Tapi kantor temen saya Mardi, setannya dibawa sama pegawai baru. Kantor yang adem ayem jadi banyak kasus yang tidak mengenakkan. A Thread @bacahorror #BacaHorror

Foto dari @bujangbangket

Sebelum dimulai boleh bantu retweet atau like dulu ya. 10 menit lagi saya balik.

Oke cerita sedikit dulu soal kantor saya. Jadi kalau di kantor saya itu emang ada yang jaga, cewek baju putih rambut panjang. Nongkrongnya di tangga besi dekat dapur. Gak pernah ganggu karena katanya senenh sama anak-anak di kantor.

Kalau kita lagi kerja katanya sosok ini kadang ngeliatin. Cuma kalau sampai ada yang nginep, dia suka iseng dikit. Kebetulan kantor kita kecil gitu, masi rumahan.

Nah kalau ada yang nginep setiap jam 2, akan terdengar suara meja di lantai atas digeser. Anak-anak yang baru nginep biasanya kebangun sendirian terus denger sendirian.

Suatu waktu saya putuskan tidur di lantai atas, di dekat meja yang sering terdengar digeser. Ngeri ngeri sedap, tapi pengen ngecek aja, kalau ada orang dia masih suka geser-geser gak.

Ternyata aman-aman aja. Malam itu enggak ada suara meja digeser. Mungkin dia gak enak ganggu saya yang tidur lelap.

Nah sama seperti saya, kantor Mardi juga ada di dalam komplek di bilangan Jakarta Selatan. Pegawai di kantornya total hanya ada sepuluh orang. Dan kata Mardi awalnya gak ada apa-apa di sana. Yang nunggu juga tidak ada. Rumahnya juga masih baru.

Nah sekitar Maret 2018, mereka lagi dapat proyek lumayan besar. Ini membuat kantor itu harus merekrut karyawan baru. Maka disebarlah lowongan kerja. Yang daftar ada beberapa.

Salah satu yang menarik ada yang ngelamar dari salah satu kota di jawa tengah. Portofolionya oke, dan dipanggillah dia buat wawancara.

Nah walau jauh, si pelamar ini datang. Dari kotanya dia naik bis, dari terminal langsung ke kantor. Setelah tanya ini itu, singkat cerita calon yang satu ini keterima. Soalnya skill-nya oke, dan permintaan gajinya gak gede. Masih on budget.

Oke keterimalah si pegawai ini. Sebut aja namanya Wahyu. Wahyu minta waktu seminggu, dia mau balik dulu ke kotanya buat nyiapin. Sama mau sambil cari kosan dulu katanya.

Seminggu kemudian Wahyu datang. Tapi ada sedikit masalah, Wahyu belum dapat kosan yang cocok delat kantor. Ada satu kosan yang cocok, tapi ia baru bisa pindah 3 minggu lagi. Nunggu orangnya pindah.

Ya sudah, atasan di kantor ngizinin Wahyu sementara tinggal di kantor. Cuma Wahyu harus rela tidur di sofa. Kalau urusan mandi sih di lantai atas memang ada kamar mandi. Karyawan yang sepedaan kadang menggunakan kamar mandi itu.

Nah kata Mardi ada sesuatu yang menurutnya janggal sejak pertama kali ketemu Wahyu pas interview. Wahyu punya aroma yang kurang enak. Bukan busuk atau asem, tapi lebih kayak tanah becek. Kira-kira begitu Mardi menjelaskan.

Di kantor Wahyu tak banyak bicara. Sepanjang hari ia cuma di depan komputer, konsultasi sesekali lalu balik berkerja. Maklum masih Probation atau masa Ujicoba, emang biasanya lebih berhati-hati dalam bersikap.

Nah di minggu kedua mulai terjadi sebuah kejadian yang cukup menarik. Jadi ada atasan mereka namanya Pak Wiko. Dia marah sama Wahyu karena sebuah kelalaian. Intinya gara-gara Wahyu, mereka telat ngasih preview proyek klien. Mana klien-nya songong, jadi marah2.

Abis dimarahin klien, Pak Wiko marah-marah ke Wahyu. Karena setelah ditelisik, salahnya di Wahyu. Dia salah memahami brief. Tapi kalau kata Wahyu, ada temen kantor yang salah jelasin ke dia pas dia nanya.

Besoknya, Pak Wiko mengalami sebuah peristiwa mistis. Jadi pak Wiko sedang cuci tangan di toilet. Terus dia ngerasa ada yang liatin, kayak ada orang lain di toilet. Dia bisa ngerasain, kayak ada yang ngelus tangannya.

Elusan itu terasa menjalar ke pundak, lalu ke leher. Lehernya terasa panas. Pak Wiko panik, ia ambil air keran dengan tangannya dan meminumnya tapi tenggorokannya terasa seperti terbakar.

Terus dia teriak-teriak di kamar mandi. Seluruh kantor kaget dan buka pintu kamar mandi. Pak Wiko berlutut memegang lehernya. Suaranya ilang sama sekali. Mukanya merah, dan kayak ada garis hitam lebam di lehernya.

Pak Wiko sempat tak masuk seminggu, suaranya beneran hilang tiba-tiba. Tiap ia berusaha ngomong, tenggorokannya terasa sakit. Begitu yang diceritain Pak Wiko pas udah sembuh.

Di kantor itu kan pada gak percaya sama hal-hal mistis. Jadi pegawai lain sibuk diskusiin tuh penyebab Pak Wiko begitu dari sisi ilmiah. Cuma Wahyu yang nyeletuk, "itu kalau di kampungku biasanya karena santet".

Oh ya seperti biasa, ini nulisnya selow. Jadi kalau mau baca thread yang sudah selesai, silahkan kemari

Memuat konten...

Teman yang duduk di dekat Wahyu nakanya Tio. "Udah 2018 masih ada yang pakai santet? Pas bayi dikasih makan menyan kali ya" kata Tio. Nah Tio ini tempat Wahyu sering nanya. Mulutnya emang kada-kada gak ada rem.

Kejadian lain terjadi beberapa hari kemudian. Karena ada kerjaan yang delay lagi dikirim ke klien, beberapa pegawai harus lembur. Salah satunya Mardi. Tapi Wahyu kebetulan enggak lembur. Sekitar jam 8 malam Pas Mardi turun dia liat Wahyu sudah tidur. Lampu bawah dimatiin.

Mardi waktu itu pas ngambil minum. Gak enak takut bikin bangun, Mardi ngambil minum dalam keremangan. Selesai mengisi gelas dia naik lagi.

Dan saat Mardi naik ke atas, dia kaget bukan kepalang. Bulu kuduknya merinding. Di atas ada Wahyu dong lagi ngobrol Ranti, temannya yang juga lembur. Wahyu dan Ranti menatap Mardi dengan heran. Mardi pucat pasi, membawa gelas dengan gemetar.

"Lo kenapa Mar?" Tanya Ranti. "Kagak, dingin aja. AC-nya naikin dikit kali ya suhunya" kata Mardi sambil gelagapan mengambil remote AC. Ia pura2 menurunkan suhu lalu turun ke bawah. Ia menyalakan lampu.

Tidak ada siapapun di Sofa. Suasana jadi mencekam buat Mardi. Ia lalu naik ke atas. Malam itu ia gak terlalu fokus, pikirannya kemana-mana.

Mardi tidak menceritakan kejadian itu pada teman-temannya. Takut diledekin. Lagipula, ia masih positif thinking kalau ia salah lihat. Maklum suasana saat itu remang.

Beberapa hari kemudian adalagi kejadian aneh. Kali ini semua orang di kantor ngalamin. Pas pagi masuk kantor, aroma kantor penuh aroma kemenyan. Kata OB yang biasanya bersih2 pas pagi, saat dia datang sudah begitu. Dia udah coba pakai pewangi, tapi gak mempan.

Nah harusnya yang tahu penyebabnya adalah Wahyu, dia kan nginap di situ. Tapi waktu ditanyain, Wahyu bilang tidak tahu menahu. Dia bilanh, pas dia bangun tidur di sadar ada aroma aneh itu, tapi dia ndak tahu sumbernya.

Karena aroma yang benar-benar mengganggu, Mardi, Ranti, dan Tyo izin kerja di luar. Ranti sudah sampai tahap mual dan pusing karena aroma itu. Aromanya benar-benar menyengat.

Pas kerja bareng di kafe Si Tyo nyeletuk. "Apa bener kata si Wahyu kantor kita ada santetnya?" "Kan lo gak percaya begituan" kata Mardi. "Tapi kalau liat kejadian pagi ini sih bisa aja. Jangan-jangan ada saingan yang jampiin kantor kita" kata Tyo.

"Tapi kalian ngerasa aneh gak sama Wahyu?" Tanya Rani. "Sejak awal sih sudah aneh, kampungan gayanya" kata Tyo "Hush, bukan gitu! Tapi gue ngerasa dia misterius aja. Ngobrol cuma sesekali" "Namanya juga orang daerah. Masih adaptasi" kata Mardi.

"Ngomongin aneh. Tapi gue pernah lihat Wahyu ngeluarin semacam keris kecil dari tasnya. Gak sengaja dikeluarin lebih tepatnya pas dia nyari barang" kata Tyo. "Buat apa dia bawa begituan?" Rani penasaran. "Makanya gue bilang aneh" sahur Tyo.

Sorry-sorry. Maksudnya Ranti ya bukan Rani.

Karena Mardi penasaran, besoknya pas jam makan siang, dia dekatin Wahyu. "Yu, sorry nih kalau lo gak enak jawabnya. Tapi bener kalau lo punya keris?" "Keris?" Wajah Wahyu berubah tegang. "Iya, keris kecil" "Oh yang itu. Cuma asesoris kok Mas. Kenang-kenangan"

"Soalnya kan ada aturan dilarang bawa senjata tajam ke kantor." Kata Mardi. "Ndak mas, ndak bahaya. Ndak tajam kok. Kenang-kenangan dari teman saja itu" kata Wahyu.

Soal pekerjaan, sebenarnya Wahyu ini karyawan yang oke. Walau sempat kagok di awal, ia cepat beradaptasi dengan ritme kerja di kantor itu.

Tapi sebuah kejadian menimpa Tyo. Jadi suatu pagi Tyo datang telat. Dia dimarahin atasan. Tyo tampak kesal. Pas makan siang dia cerita ke Mardi dan Ranti. Cerita ini tidak ia sampaikan ke atasannya karena takut dianggap mengada-ngada.

Jadi Tyo ini kan ngantornya naik sepeda. Kosannya gak jauh dan gak dekat juga dari kantor. Anehnya pagi itu pas dia belok ke kompleks perumahan tempat kantornya berada ia ngerasa suasana yang sangat sepi.

Awalnya Tyo ndak terlalu peduli. Tapi sesuatu yang aneh terjadi. Tyo tidak bisa menemukan kantornya. Kepalanya agak pusing dan gak fokus. Ia berusaha menemukan lokasi kantor tapi ia seperti lupa lokasinya. Padahal sudah dekat jam masuk.

Nah sampai lewat jam masuk Tyo masih tidak menemukan kantornya. Ya sudah dalam keadaan linglung ia menemui satpam di depan kompleks. Ia minta diantarin ke kantor.

Satpam sempat heran, tapi yaudah diarahkanlah Tyo menuju kantor. Dan ternyata dari tadi, tiap Tyo harusnya belok kiri ke arah kantor, ia selalu belok kanan. Jalannya ada, tapi kayak gak sadar dia belok kanan. Jadinya muter-muter dalam kompleks kayak orang bego.

Terus Mardi ingat Wahyu. Ia ingat Pak Wiko hilang suara setelah memarahi Wahyu. Lalu Tyo diganggu setelah Wahyu nanyain soal keris. Dan Wahyu sepertinya tahu kalau Mardi tahu dari Tyo. Mardi mulai tuh curiga ke Wahyu.

Maka Mardi menceritakan kejadian yang dia alami. Ia juga menyampaikan kecurigaannya ke Tyo dan Ranti. "Ingat gak yang aroma kemenyan? Gimana kalau kita lihat rekaman CCTV pas malamnya?" Kata Ranti. "Anjir iya juga" seri Tyo. Maka dimulailah aksi penyelidikan Wahyu.

Tyo meminta bantuan temannya yang megang akses CCTV kantor. Dicarilah rekaman malam itu. Mardi kaget liat cupikam yang dikirim Tyo. Sekitat jam 3 pagi, Wahyu membakar menyan sambil keliling semua ruangan di kantor. Ia juga mengacungkan keris kecilnya ke atas. Matanya memejam.

Lalu di depan ruangan atasan, Wahyu memeragakan sebuah gerakan mirip gerakan silat. Ia menghunus keris ke sana kemari. "Jelas ini gak bener. Kurang ajar si Wahyu" kata Tyo. "Kita musti lapor ke Atasan. Ini ada buktinya" kata Mardi.

Besok harinya baru mereka melapor ke atasan. Kebetulan Pak Wiko sudah masuk. Mereka menunjukkan video itu. Semua kaget. "Sialan, ternyata dia yang ngusilik saya" kata Pak Wiko geram. Siangnya, Wahyu dipanggil menemui atasan.

Mardi bisa mendengar Pak Wiko teriak-teriak di depan Wahyu. Dari kaca ruangan, mereka juga melihat Pak Wiko menunjuk-nunjuk wajah Wahyu.

Wahyu keluar dengan wajah lesu. Ia memandangi Tyo dan Mardi. Lalu ia merapikan mejanya dan mengemasi tasnya. "Mas Tyo, Mas Mardi, saya pamit" kata Wahyu. Ia lalu turun dan mengemasi barang-barangnya yang lain. Dia diusir siang itu juga.

Mardi sempat merasa bersalah. Tapi itu pantas untuk orang sesat seperti Wahyu. Masalahnya, tanpa Wahyu kerjaan kacau. Malam itu, mereka terpaksa lembur. Pak Wiko, Mardi, Ranti, dan dua karyawan lain harus menyelesaikan pekerjaan walau harus bergadang sampai dini hari.

Pukul 1 dinihari tiba-tiba ada riuh di bawah. Suara barang-barang jatuh. "Ranti, tolong dicek" kata Pak Wiko. Ranti lalu mengajak satu teman lainna turun. Gak berapa lama berselang, mereka naik dengan wajah pucat.

"Kenapa Ran?" Tanya Mardi. Mereka tak bicara, hanya menunjuk ke bawah. Mardi bergegas melihat ke bawah. Di depan tangga, sesosok pocong dengan muka menjijikan tampak menyeringai. Lalu terdengar tawa di penjuru kantor.

Di belakang Mardi, 4 orang lainnya melihat pemandangan yang sama. Sebuah pengalaman horror yang kolektif.

Lalu Pak Wiko adalah orang pertama yang lari ke pintu menuju balkon. "Tolong! Tolong!" Serunya. Ia berusaha membuka pintu namun terkunci. Ranti berlari menyusul menyambar kunci dan diikuti Mardi dan dia karyawan lain. Pintu terbuka.

Di depan pintu, sosok pocong tadi menyeringai. Aromanya busuk menyengat. Kepala Ranti pusing disusul muntah. Mardi menarik tangan Ranti, kedua karyawan lain kabur bersembunyi di kamar mandi. Keduanya berteriak lalu disusul hening.

Sementara itu Pak Wiko sibuk melempar apapun di meja ke arah pocong yang terbang mndekat. Wajah Pocong tepat di depan wajah Pak Wiko.

Ranti dan Mardi kembali ke arah tangga. Mereka lari ke bawah dan hendak membuka pintu. Saat pintu di buka. Wahyu ada di depan pintu. "Mas, Mbak, permisi. Ada yang harus saya selesaikan di sini" kata Wahyu. Ia masuk ke dalam melewati Mardi dan Ranti.

Mardi dan Ranti mengikuti Wahyu lari ke atas. Pak Wiko menggelepar gelepar menjulur lidah di lantai. Suaranya serak. "Mampus kalian semua!"

Wahyu datang mengangkat keris kecil. "Mau ngapain lo?" Seru Mardi hendak menahan. Wahyu menempelkan ujung keris ke jidat Pak Wiko. Ia menggeser ke arah hidung melalui antara dua mata. Mata Pak Wiko melotot.

Kemudian pak Wiko menganga. Keris diarahkan ke mulut lalu di angkat ke atas seperti mencabut sesuatu. Pak Wiko terengah-engah lalu muntah.

"Pak Wiko cuma kesurupan" kata Wahyu sambil menyarungkan kembali kerisnya. Ia lalu berjalan hendak turun. "Permisi, saya pamit" kata Wahyu.

"Bentar, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa lo masih di sekitar sini?" Tanya Ranti. "Daritadi pagi saya ngerasa energi yang besar mbak di sekitar sini. Saya sudah jelaskan ke Pak Wiko kalau ada yg ngirim sesuatu ke sini. Kita diusili. Sejak wawancara saya liat ada yg tdk beres"

"Menyan itu?" Tanga Mardi "Iya mas itu saya coba lindungi kantor ini. Saya mau ngomong tapi orang sini pada gak percaya ghaib. Saya ini dari kampung, gak asing sama ginian" kata Wahyu

"Saya sudah coba jelaskan ke pak Wiko, tapi saya dituduh macem2. Yo wes, siapalah saya. Saya itu punya kemampuan turunan, saya merasa bertanggung jawab buat bantu kantor ini" kata Wahyu.

Maka Mardi meminta Wahyu tak pergi. Mereka memeriksa dua karyawan di kamar mandi yang tampak pucat baru sadar dari pingsan.

Besoknya baru deh diomongin semuanya. Kalau kata Wahyu bisajadi ada saingan yang iri sama kantor itu. Makanya kirim yang aneh-aneh. Apalagi mereka lagi pegang proyek penting. Tapi kata Wahyu gak perlu terlalu khawatir, soalnya Wahyu bisa ngebendung serangan.

Kalau sosok yang diliat Mardi tidur, Wahyu bilang itu Jin Khodam-nya. Oh ya Wahyu akhirnya balik kerja di kantor itu walau cuma 6 bulan karena harus balik kampung. Tapi keberadaan Wahyu jadi pengalaman menarik buat orang-orang di kantor.

Terus Wahyu bilang dia ninggalin penjaga di kantor itu.

Nah Kata Mardi dia bisa aja cerita di akunnya tapi ada beberapa pertimbangan. 1. Kasian sama yang punya rumah, soalnya itu rumah sewa. 2. Takut bikin nama kantornya jelek, kantor anak milenial masak percaya santet dan sesetanan. Tar klien kabur.

Kalau saya yang ceritain aman, soalnya orang-orang gak bisa nyari tau apa kantornya dan dimana rumah yang dijadiin kantor itu.

Oh ya lupa, Itu Si Wahyu yang punya kemampuan paranormal itu, di kantor kerjaannya ngoding. Anak IT dia. Sungguh berlawanan kan.

Terimakasih buat yang udah nyimak, terimakasih dukungannya. Sampai jumpa di thread lainnya. Boleh bantu follow ya!

Kalau kalian, ada pengalaman horror apa di kantor?

Utas tidak lengkap? Coba Perbarui Utas
Baca di Twitter ↗️ Follow Twitter @bacautas ↗️
>