RAWCC
Utas oleh
 @RAWCC

Beberapa waktu lalu ada Mimin sering tanya terkait KDP alias Kekerasan dalam Pacaran. Pertanyaan yang biasanya ditanyakan adalah: Udah tahu itu KDP. Udah tahu sering disakitin. Toxic banget. Kok ya tetep aja mau? Yup, kita bahas ya. #kamishalu #toxicrelationship #KDP

Foto dari @RAWCC

Penasaran dengan contoh dinamika hubungan yang toxic tapi kok nggak putus jua? Klik podcast kita yang ini nih. Ada Kak Teteph dan Kak Niken sebagai narasumber.

https://anchor.fm/rifka-annisa-wcc/episodes/Toxic-Relationship-ea1jsg

Dari podcast kita tadi, ada berbagai macam ciri toxic relationship dalam ranah pacaran. Lebih lengkapnya bisa cek juga di sini: #KamisHalu #KDP

Foto dari @RAWCC

Jika mayoritas jawabannya YA, maka kamu telah mengalami kekerasan dalam hubungan pacaran atau toxic relationship dengan pacar. Terus gimana donk kalau iya? #KamisHalu #KDP

Foto dari @RAWCC

KDP nggak hanya terjadi pada remaja aja lho. Pada usia dewasa juga bisa, meliputi kekerasan yang dilakukan oleh mantan pacar atau mantan suami. #KDP #KamisHalu #toxicrelationship

Foto dari @RAWCC

Bentuk Kekerasan dalam Pacaran bermacam-macam, seperti memukul, memaksa, membatasi pergaulan, memanfaatkan secara materi, mengingkari janji untuk bertanggungjawab, memaksa aborsi, berselingkuh, dan menghina. #KDP #KamisHalu #toxicrelationship

Akibatnya? Menyebabkan kesengsaraan baik fisik, psikis, seksual, serta ekonomi bagi korbannya. #KDP #KamisHalu #toxicrelationship

Gimana kita tahu ciri-ciri hubungan dengan pacar mulai mengarah ke toxic? #KDP #KamisHalu #toxicrelationship

Foto dari @RAWCC

Toxic, tapi kok masih mau? Cara yang biasa dilakukan oleh pelaku agar pasangannya tetap berada di bawah kendalinya adalah mengungkapkan bahwa semua yang ia lakukan merupakan bentuk perhatian, kasih sayang, dan cinta. #KDP #KamisHalu #toxicrelationship

Padahal, sebenarnya hal tersebut adalah bentuk kekerasan karena membatasi ruang gerak pasangan secara berlebihan. #KDP #KamisHalu #toxicrelationship

Foto dari @RAWCC

Kenapa sih, terjadi Kekerasan dalam Pacaran? Ada yang bilang karena cemburu. Lho, apakah setiap cemburu berujung kekerasan? Setiap cemburu berujung membatasi pasangan? Kan enggak. Terus karena apa donk?

Ada juga yang bilang, kekerasan dalam pacaran terjadi karena udah cinta banget. Lha, emangnya kalau cinta banget kemudian selalu berujung pada aktivitas membatasi pasangan? Kan enggak selalu.

Nah, sebenarnya akar penyebab dari kekerasan dalam pacaran itu bukan karena cemburu atau karena cinta banget. Tapi, ada cara pandang yang keliru dalam memaknai hubungan akibat budaya patriarkhi. Cek apa itu budaya patriarkhi:

Foto dari @RAWCC

Karena budaya patriarkhi, laki-laki dalam suatu hubungan lebih cenderung ditempatkan menjadi pihak yang dominan. Akibatnya cinta kadang tidak dipandang sebagai kesalingan, tetapi dipandang sebagai kepemilikan atau kepenguasaan. #ToxicMasculinity #toxicrelationship

Laki-laki yang dalam budaya patriarki ditempatkan sebagai sosok yang tegas, berani berwibawa, melindungi, merasa gagal ketika ia tidak mampu memenuhi apa yang menjadi atau tuntutan/harapan dari lingkungan sosialnya. #ToxicMasculinity #toxicrelationship

Manifestasi dari kegagalan memenuhi tuntutan tersebut diantaranya adalah dengan menguasai pasangan. Mulai membatasi aktivitas pacar, mengatur cara berpakaian, mengatur dengan siapa harus berteman. Tujuannya, agar ia merasa dibutuhkan, dihargai, meski sebenarnya itu semu.

Tuntutan terhadap laki-laki tersebut membuat laki-laki lebih mendapatkan tekanan di keluarga dan masyarakat. Kalau sekolah, dia harus lebih pintar, kalau bekerja ya jabatan harus lebih tinggi, lebih sukses. Seperti pertanyaan GIMANA MAU JADI PNS Mimin #ngikutin trending

Tuntutan tersebut, ditambah tuntutan bahwa laki-laki harus tampak tegar, tidak boleh menangis atau bahkan curhat, membuat laki-laki rentan melampiaskan tekanan tersebut dengan cara-cara yang agresif atau berkekerasan. #ToxicMasculinity #kekerasandalampacaran

Jadi, budaya patriarkhi membuat laki2 cenderung rentan menjadi pelaku, termasuk dlm ranah pacaran. Tapi tenang aja, di dalam penelitian yg pernah dilakukan Rifka Annisa, sebenarnya lebih banyak laki2 yg tidak melakukan kekerasan, dibandingkan yang melakukan kekerasan. #goodnews

Mari kita tilik penelitian Partners for Prevention di Asia dan Pasifik yang mencermati tentang 'Mengapa sebagian laki-laki melakukan kekerasan terhadap perempuan dan bagaimana kita bisa mencegahnya' #masculinity #genderbasedviolence

Survei dalam penelitian tersebut dilakukan terhadap 10.000 laki-laki dan 3.000 perempuan di 9 tempat di 6 negara (Bangladesh, Cambodia, China, Indonesia, Sri Lanka, dan Papua Nugini). #genderbasedviolence

Salah satu temuan: Tidak semua laki-laki melakukan kekerasan. Meski beberapa laki-laki melakukan kekerasan, data menunjukkan lebih banyak laki-laki yang tidak melakukan kekerasan. #lakilakitidakdiam #hentikankekerasan

Variasi yang terjadi di berbagai wilayah: beberapa laki-laki mengekspresikan frustrasi dengan gagasan maskulinitas negatif; lainnya diwujudkan dan dipraktikkan wujud alternatif maskulintas yang mendukung power sharing/pembagian kuasa yang setara antara laki-laki dan perempuan.

Temuan lainnya: laki-laki dan perempuan sebenarnya secara umum mendukung kesetaraan gender, tetapi dalam tataran praktik berbeda, cenderung lebih kecil dukungannya. #toxicrelationship #genderbasedviolence

Contoh, sebagian besar (84-99%) responden, baik laki-laki dan perempuan, meyakini ide terkait kesetaraan gender. Tetapi, ketika ditanya terkait norma spesifik di dalam keluarga, praktik dalam rumah tangga serta posisi perempuan, pandangan mereka cenderung timpang.

Temuan lainnya: Penerimaan kekerasan terhadap perempuan secara bervariasi terjadi di berbagai area, dan menggambarkan adanya perbedaan akibat konteks sosial dan budaya.

Sebagai contoh, hanya 5% laki-laki di daerah urban di Indonesia mempercayai bahwa 'ada kalanya perempuan pantas dipukul', sedangkan di daerah Rural Bangladesh mencapai 62%.

Temuan lainnya: Pengalaman laki-laki mendapatkan kekerasan di masa kecil cukup umum terjadi dan mempunyai konsekuensi serius. #kekerasan #kekerasananak

Pengalaman laki2 mendapatkan kekerasan di masa kecil berkorelasi dengan depresi, kepuasan hidup yg rendah, kesehatan yang rendah, menjadi anggota geng, terlibat dalam perkelahian dengan senjata, alkohol serta penggunaan napza, melakukan traksaksi seksual, serta pelaku kekerasan.

Nah, terakhir ada beberapa tips nih, gimana supaya kita terhindar dari hubungan yang toxic dengan pasangan. #toxicrelationship

Foto dari @RAWCC

Tips #2 Terhindar dari hubungan toxic. #toxicrelationship

Foto dari @RAWCC

Dan ingat ya, salah satu ciri dari kekerasan dalam pacaran atau toxic relationship dengan pasangan adalah adanya siklus kekerasan. Ketika ini terjadi, jangan takut untuk #speakup untuk mencari bantuan.

Butuh bantuan terkait #toxicrelationship atau kekerasan dalam pacaran? Kita ada konselor yang profesional. Gratis. Untuk konseling tatap muka, jangan lupa membuat janji temu dulu ya, lewat hotline atau telepon. Jadwal buka kantor ada di tweet sematan.

Utas tidak lengkap? Coba Perbarui Utas
Baca di Twitter ↗️ Follow Twitter @bacautas ↗️
>