Kisuriel
Utas oleh
 @Kisuriel

Kali ini, saya akan bercerita tentang cerita. 𝘈𝘯 𝘢𝘯𝘤𝘪𝘦𝘯𝘵 𝘺𝘦𝘵 𝘩𝘪𝘨𝘩𝘭𝘺 𝘢𝘥𝘷𝘢𝘯𝘤𝘦𝘥 𝘴𝘬𝘪𝘭𝘭 𝘤𝘢𝘭𝘭𝘦𝘥: 𝘚𝘵𝘰𝘳𝘺𝘵𝘦𝘭𝘭𝘪𝘯𝘨 . . . 🌌 SEBUAH UTAS 🌌

Foto dari @Kisuriel

Sebelum saya benar-benar memulai, ada yg perlu kita pahami bersama. Saya menulis ini bukan untuk mengajarimu tentang bercerita, tapi untuk "membangunkan" kemampuan berceritamu. Saya jg menerima koreksi atas segala salah kata & misinformasi. Selamat menikmati 🍃.

Sekitar 100.000 tahun yg lalu, organ pita suara, mulut, dan lidah dari spesies manusia disinyalir berevolusi. Dengan kemampuan bersuara, manusia menciptakan "bahasa". Seiring dengan adanya bahasa, manusia mulai bercerita.

Foto dari @Kisuriel

Manusia mulai menyampaikan informasi lewat suara, ekspresi, dan gestur yg sederhana yg membentuk sebuah cerita. Generasi ke generasi, ilmu bertahan hidup berhasil diturunkan, lewat cerita lisan.

Sekitar 27.000 tahun yg lalu, manusia mulai terampil dalam memanfaatkan alam. Mereka mulai menurunkan ilmu bertahan hidup lewat lukisan di gua-gua tempat mereka tinggal (cave paintings). Isi lukisannya apa? Cerita.

Foto dari @Kisuriel

Dalam lukisan dinding, semua tips dan tata cara berperilaku manusia tercantum di sana secara visual. Cara berburu, cara menari, cara bersosialisasi, dan cara-cara hidup lainnya. Tidak ada teks, hanya cerita bergambar. Dan semua orang belajar dari sana.

Sekitar 3.500 tahun yg lalu, teks akhirnya ditemukan di peradaban Mesir kuno. Teks dalam kertas papir & terciptanya sistem penulisan membuat cerita menjadi sangat mudah dipahami maupun disebar. Simbol-simbol perlahan menjadi abjad.

Foto dari @Kisuriel

Dari ditemukannya cave painting sampai teks itu linimasanya panjang. Udah banyak sekali metode-metode penyampaian informasi lewat batu, simbol, bahasa yg kompleks, dll. Medium boleh terus berevolusi, tp isinya tetaplah cerita, cerita, dan cerita.

Manusia menikmati kemudahan berbagi cerita lewat teks. Melalui karya literatur, surat-menyurat, dan buku, teks berhasil membagi cara transferring knowledge menjadi dua: lisan & tulisan.

Sampai akhirnya komputer diciptakan sekitar 84 tahun silam. Setelah melalui banyak sekali revisi & perdebatan, komputer menjadi alat transfer ilmu pengetahuan terbaik. Dengan menggabungkan semua elemen ciptaan nenek moyang kita: gambar, lisan, tulisan.

Foto dari @Kisuriel

Apa yg bisa ditarik garis dari semua temuan-temuan itu? Manusia punya "kuda hitam" dalam kebutuhan primernya selain sandang, pangan, papan. Hal itu adalah: Kebutuhan untuk menerima dan menyampaikan informasi.

Bahasa, lukisan batu, ukiran, teks, komputer, itu semua hanyalah manifestasi dari kebutuhan kita akan mendengarkan/menyampaikan informasi. Yg berubah hanya kemudahannya, bukan kontennya.

Semua temuan-temuan itu menyokong satu metode berkomunikasi yg paling canggih dari zaman prasejarah hingga modern. Bercerita.

Foto dari @Kisuriel

Bercerita terus menerus diturunkan lintas generasi. Itu yg membuat manusia masih ada sampai sekarang. Kamu masih hidup karena "X" tahun silam (X = umurmu), orangtuamu menceritakan sesuatu padamu. Tentang yg boleh dan tidak boleh.

Sepintar-pintarnya, secanggih-canggihnya spesies kita sekarang, kita tetap makhluk dibentuk oleh rangkaian cerita, yg dirajut oleh para pencerita yg berhasil meyakinkan kita. Mulai dari orangtua, teman, guru, kolega, buku, film, selebriti, dsb.

Kenapa cuma cerita yg berhasil meyakinkan kita? Kenapa cuma cerita yg enak didengar? Karena ada unsur emosional di dalamnya. Ada investasi emosi yg mengikat, sehingga informasi masuk dengan lancar.

Ini menjelaskan mitos kenapa cewek lebih (naturally) lihai bercerita ketimbang cowok secara verbal. Sebenarnya bukan karena bakat/kodrat. Cewek punya warisan tata cara bercerita yg baik & benar dari nenek moyangnya. Women (mostly) put emotions in the way they talk.

Foto dari @Kisuriel

On special note about prehistoric women: 𝘞𝘩𝘢𝘵 𝘵𝘩𝘦𝘺 𝘭𝘢𝘤𝘬 𝘪𝘯 𝘱𝘩𝘺𝘴𝘪𝘤𝘢𝘭 𝘱𝘳𝘰𝘸𝘦𝘴𝘴, 𝘵𝘩𝘦𝘺 𝘤𝘢𝘮𝘦 𝘶𝘱 𝘸𝘪𝘵𝘩 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘶𝘢𝘨𝘦 𝘢𝘧𝘧𝘪𝘯𝘪𝘵𝘪𝘦𝘴 𝘵𝘰 𝘴𝘶𝘳𝘷𝘪𝘷𝘦. Btw, gambar di atas bukan cewek prasejarah beneran loh ya 😁

Contoh lain, influencers/celebrities. Seringkali cerita mereka tidak lebih oke dari orang biasa kok. But who cares? Mereka berhasil membuatmu berinvestasi secara emosi duluan dgn personanya. Cerita dari mereka akan selalu sah. Hal ini tidak salah kok, selama tidak merugikan.

Contoh terakhir: Gosip. Gosip adalah salah satu jenis cerita yg memang penuh akan emosi. Fakta bisa nihil. Tapi balutan ekspresi, intonasi, gestur, itu semua cukup untuk meyakinkanmu. Nenek moyang kita bergosip? Sangat. Gossip is lyfe then and now.

http://www.bbc.com/earth/story/20150227-where-did-gossiping-come-from

Semua yg saya contohkan di atas sudah ada dari zaman prasejarah; cara bercerita primitif, selebritas (dukun, kepala suku), dan gosip. Kita hanya mengulangnya dgn bentuk yg lebih modern. Intinya, dari dulu hingga sekarang prinsipnya sama: "Best story wins".

Oke kita istirahat dulu sekarang. Soalnya setelah ini saya bakal lebih fokus ke teknisnya. Dilanjut gak nih? Atau besok aja?

Saya jadwalkan utas ini dilanjut besok ya. Kisi-kisi buat besok: - Bagaimana caranya menjadi storyteller yg lihai? - Bagaimana caranya bercerita dengan baik? - Bagaimana caranya membuat "Best Story"? - Apa saja jenis-jenis cerita? See you soon! Thanks for reading 🍻

Selamat siang, mari kita lanjutkan "Cerita Tentang Cerita" yg tertunda semalam. Makasih ya yg udah RT, Likes, Reply. Niscaya cerita ini berguna, minimal merangsang sel-sel pencerita hebat di dalam dirimu ✌🏻

Foto dari @Kisuriel

"Best story wins" Lalu bagaimana cara menciptakan cerita yg baik? Terlebih lagi, bagaimana cara menceritakannya (dengan baik)? Coba kamu kilas balik ke akun-akun pencerita favoritmu. Apa yg membedakanmu dengan mereka?

Coba baca dan rasakan ulang kenapa kamu bisa follow dan menikmati semua cerita mereka. Atau film dan buku favoritmu, yg bisa membuatmu betah terbuai selama berjam-jam. Saya rasa bukan hanya karena kontennya.

Saya gak mau hipokrit; jam terbang, persona, atau fasilitas memang berpengaruh. Tapi itu semua hanya alat bantu. Satu hal yg paling membedakanmu dengan mereka adalah... Narasi.

Bahwa ada yg namanya 'Cerita' dan 'Narasi'. Banyak yg gak sadar akan duet ini. Semua fokus di cerita/konten, sehingga lupa dengan sosok narasi. Mereka yg jago cerita itu gak memainkan cerita, mereka memainkan cerita DAN narasi secara seimbang.

Untuk lebih mudahnya, saya analogikan aja ya. Anggaplah kamu sedang ingin memasak. Kamu mau masak apa hari ini? Kari ayam misalnya. Nah, si 'Cerita' adalah ilham/informasi/ide masakannya, beserta semua bahan-bahan mentahnya.

Foto dari @Kisuriel

Bisa langsung disajikan mentah? Bisa. Rasanya enak atau aman di perut? Belum tentu. Karena itu, meski semua orang bisa memasak, ada juru masak yg hebat dan yg tidak.

Sekarang coba kilas balik tentang para "juru masak" di ranah pendidikanmu. Yes, para guru/dosenmu. Apakah semua makanan yg mereka sajikan sudah pasti kamu telan? Atau setidaknya memancing nafsu makanmu? Ada yg iya, dan ada yg tidak samasekali.

Dari sini pasti sudah kelihatan faktor apa yg membedakan antara "juru masak" hebat dengan yg tidak. Yaitu dari cara mengolah & menyajikan masakannya. Dalam ranah bercerita/penyampaian informasi, faktor ini disebut dengan NARASI.

Narasi adalah bagaimana kamu: - membaca resep - memotong & memarinasi ayam - menumis bumbu - mengatur suhu kompor - mendidihkan kuah - mencampur semuanya - menaruhnya di mangkuk - menyematkan garnish Sampai menyajikannya ke orang lain.

Narasi itu tata cara, aturan, kronologis dalam mengolah & menyampaikan sebuah cerita. It's the way you tell it. Perangkat yg memberikan bentuk pada sebuah cerita, layaknya kerangka yg menopang organ luar/dalam tubuh kita.

Foto dari @Kisuriel

Tapi narasi tanpa cerita? Bagaikan peralatan lukis tanpa kanvas, lirik lagu yg tak dinyanyikan, kesiapan menikah tanpa pasangan ... Ada lagi yg bisa kasih contoh? 😁

"Kalo gitu kenapa kemampuan bercerita yg baik & benar itu disebut Storytelling Skill, Kis? Bukan Narrating Skill". Karena narasi itu hanya berperan di balik layar; sebagai pembatas, supporter, peran pembantu, meski fungsinya tidak kalah penting.

Jagoan utama? Tetap si cerita, karena dia adalah hidangan utamanya. Narasi berperan untuk mematangkan & memastikan bahwa masakan tersebut bisa dinikmati orang lain. Cerita & Narasi itu gak bisa dipisahkan, seperti John Lennon dan Paul McCartney.

Foto dari @Kisuriel

Oke karena udah terlalu panjang, saya memutuskan untuk memisahkan poin-poin lainnya (jenis cerita, investasi emosi, cara membuat narasi, dll) dalam utas yg terpisah. Sementara ini dulu. Yg paling mendasar, sekaligus yg terpenting: Sejarah cerita, Cerita, dan Narasi.

Dengan memahami bahwa bercerita sudah ada di diri kita sejak zaman batu, dan cerita tidak bisa dipisahkan dari narasi, kita akan lebih aware tentang kemampuan kuno ini. Kamu bisa jadi idolamu, bahkan lebih. Bedanya sekarang, mereka sudah paham duluan aja.

Sampai ketemu di cerita tentang cerita berikutnya! Coba mulai perhatiin detil deh setiap kali denger/baca cerita yg bagus menurutmu. Kira-kira apa aja yg "dimainkan" si pencerita.Thanks for reading 💙 𝘛𝘰 𝘣𝘦 𝘤𝘰𝘯𝘵𝘪𝘯𝘶𝘦𝘥 ...

Utas tidak lengkap? Coba Perbarui Utas
Baca di Twitter ↗️ Follow Twitter @bacautas ↗️
>